Instripeksilah dari Pilkada Serentak kemarin

Pilkada Serentak hendaknya sebagai Introspeksi Pengajuan Capres

Pilkada Serentak telah usai, dan kita semua menunggu hasil resmi yang nantinya akan di umumkan secara resmi oleh KPUD (Komisi Pemilihan Umum Daerah) pada Tanggal 9 Juli 2018. Jadi semua Pihak harap bersabar karena sebelum Rapat Pleno untuk Siapa bakal Pemenangnya pada tanggal itu berarti belum ada Pemenang apapun itu versi dan alasannya. Pilkada Serentak hendaknya sebagai Introspeksi Pengajuan Capres kedepan nya, karena itu merupakan ukuran walau bukan harga mati, minimal itulah sebuah gambaran atau Peta Perpolitik kan saat ini yang memang di kehendaki sebagian rakyat, mengingat Pilkada tahun 2018 adalah Pilkada Serentak secara langsung yang pernah di adakan oleh Indonesia yang terbesar.

Mengapa Pilkada Serentak sebagai Introspeksi ?

 

Memang demikian hendaknya karena Pilkada Tahun ini di samping Pilkada terbesar yang pernah di laksanakan Bangsa ini juga merupakan Pilkada yang mendekati dengan Pileg (Pemilu Legislatif) dan Pilpres (Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden) secara langsung, jadi sangat berarti sekali sebagai acuan atau pertimbangan ke depannya.

Pilkada Serentak hendaknya sebagai Introspeksi Pengajuan Capres Cawapres mengingat Pilkada Tahun ini mepet dengan Pendaftaran Capres Cawapres yang akan di mulai Tanggal 4 Agustus dan berakhir tanggal 10 tahun ini juga, oleh karena itu hasil akhir Pilkada serentak yang akan di Umumkan oleh KPUD pada tanggal 9 Juli sebagai acuan minimal pertimbangan dalam mengajukan Capres dan Cawapres serta memantapkan kawan Koalisi nya.

Baca Juga :  Strategi Prabowo menghadapi Serangan Politik

Oleh sebab itu ini warning bagi Pihak Gerindra dengan gagalnya Pasangan Asyik (Soedrajat Syaikhu) walaupun belum resmi di umumkan oleh KPUD, ini merupakan masukan atau renungan bagi Geruindra dan Timnya agar dalam menentukan Capres dan Cawapres nya harus orang yang enar-benar tepat supaya target Ganti Presiden tahun 2019 terpenuhi.

Karena maaf kalau salah saja dalam menentukan maka bukan tidak mungkin Dua Periode, slogan dari Pihak Jokowi yang akan memulus kan langkahnya, untuk itu Pilkada serentak kemarin hendaknya betul-betul sebagai instrispeksi sebagai Pengajuan Capres dan Cawapres nantinya.

Jangan karena faktor gengsi atau nafsu maka akan memaksakan salah satu nama, ambil Contoh tahun 2014, Ketua Umum PDI Perjuangan masih ingin dan nafsu untuk menjadi Presiden akan tetapi mereka berfikir kalau lawan Prabowo saat itu pasti Megawati kalah makanya mencari lawan yang bisa menandingi Prabowo yaitu Jokowi dan tepat Jokowi pun bisa mengalahkan Prabowo saat itu.

Untuk itu belajar dari pengalaman tahun 2014 pada Pilpres yang lalu dan belajar dari Hasil Pilkada serentak hendaknya ini bisa di jadikan pelajaran serta pertimbangan yang berharga buat Prabowo dan Partai Gerindra bersama Koalisi nya untuk menentukan Calon yang Pas agar bisa menandingi sang Incumben Joko Widodo atau Jokowi yang sudah begitu Solid dan yakin bersama Mitra Koalisi nya untuk memulus kan langkah Dua Periode nya.

Sekali lagi maaf jangan hanya nafsu, nafsu dan nafsu yang di kedepan kan ini bakal bumerang nantinya, mumpung belum terjadi mari sama-sama Introspeksi.

Demikian yang bisa kita sampaikan melalui artikel yang di beri judul “Pilkada Serentak Hendaknya sebagai Introspeksi Pengajuan Capres” semoga dapat untuk di jadikan pelajaran serta pertimbangan terutama bagi maaf Partai Gerindra dan Kawan Koalisi nya agar cerdas dan tepat dalam menentukan siapa nantinya bakal Capres dan Cawapres yang akan di ajukan untuk menghadapi sang Petahana.

Mohon maaf atas salah dan khilaf dalam Penulisan atau Penyusunan artikel ini, Terima kasih dan Wassalamualaikum wr wb, AS – Penulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *