tanda-tanda runtuh

Apakah ini pertanda runtuhnya Jokowi dari Singgah sana (Istana)

Memasuki tahun politik yaitu tahun 2018 serta Pemilu Legislatif dan di lanjutkan dengan Pilpres pada tahun 2019 yang semula Presiden kebanggaan kita yaitu Ir Joko Widodo atau biasa di panggil Jokowi ingin dua periode, ternyata menurut firasat dan Pengamatan Ketua Umum Kejawen atau Kerukunan Jawa tulen Apakah ini pertanda runtuhnya Jokowi dari Singgah sana (Istana) sudah mulai nampak yaitu di awali dengan pergantian Pucuk Pimpinan TNI (Tentara Nasional Indonesia) yang belum waktunya. Padahal kalau mau bersabar sedikit Panglima TNI kita tiga bulan lagi akan memasuki masa pensiun artinya tidak usah di ganti pun akan pensiun dengan sendirinya secara alamiah karena memang sudah masanya. Dan nama Presiden Republik Indonesia Bapak Jokowi  tetap bersih serta terpuji di masyarakat awan, lain halnya dengan kondisi sekarang.

Pertanda runtuhnya Jokowi seperti :

 

 Mengganti Panglima TNI yang kesannya di percepat

Memang betul masa jabatan Panglima TNI (Tentara Nasional Indonesia) tergantung Presiden karena itu hak Prerogratif nya akan tetapi walaupun itu haknya sebagai orang Jawa yang tulen dan kebanyakan masyarakat  orang timur pada umumnya, kenapa tidak bersabar sedikit sampai menunggu yang kurang lebih tiga bulan lagi yaitu akhir bulan Maret 2018 akan memasuki masa purnawira atau pensiun.

Dengan demikian kesan arogansi nya ada walaupun ini kewenangannya namun hal inilah yang menurut kacamata dan firasat dari Ketua Umum Kerukunan Jawa Tulen atau Kejawen maaf kurang etis dan diartikan sebagai tanda-tanda awal runtuhnya kekuasaan Jokowi dari Singgah sana artinya tidak mungkin dua periode di Istana Negara.

Baca :  Mempercepat pergantian Panglima TNI suatu kerugian Jokowi

Akan tetapi belum terlambat untuk berbenah diri dan koreksi asal ada kemauan dan tegas dari Bapak Jokowi nya sendiri, dan jangan terpengaruh dari mana pun karena seorang Jokowi kepribadiannya sungguh sangat santun, jujur, polos lugu dan berwibawa akan tetapi maaf kalau sudah Keputusan Politik yang mau di keluarkan, sungguh penulis yakin itu bukan dari Jiwa dan kepribadian bapak Jokowi sendiri melainkan ada campur tangan dari pihak lain.

Ingin dua periode seperti dalam slogan nya, maka segeralah berbenah diri dan berhati-hatilah dalam setiap mengambil Keputusan Politik jangan sampai terperosok di lubang yang sama seperti mengganti Pucuk Pimpinan TNI (Tentara Nasional Indonesia).

Karena akibat dari Pergantian Pucuk Pimpinan TNI (Tentara Nasional Indonesia) yang terkesan mendadak dan tidak sabar menunggu Mas Gatot pensiun yang kurang lebih tiga bulan lagi maka itu suatu kesalahan fatal secara politik menurut kaca mata Sang Ketua Umum Kejawen, karena tanpa di ganti atau bahasa pas nya di lengser kan pun Mas Gatot akan turun secara alamiah dengan sendirinya karena sudah waktunya  pensiun, dan nama Presiden Jokowi bersih dan harum di mata lawan politiknya begitu juga di masyarakat umumnya lain halnya kalau sekarang, namanya agak sumbing bahkan ada kesan sangat  arogan.

Mengingat mau tidak mau dan suka tidak suka bahwa nama yang di ganti yaitu Jenderal TNI H. Gatot Nurmantyo atau yang lebih akrab di panggil Mas Gatot sedang di senangi oleh Para Kyai, ulama, Ustad dan para santri nya begitu juga bawahannya di lingkungan keluarga besar tentara.

Dengan demikian nama Jokowi akan harum, tapi itu tadi karena ambisi politik dan tekanan kanan kiri maka kesalahan mengganti pucuk Pimpinan TNI (Tentara Nasional Indonesia) menjadi bumerang, karena yang di ganti Mas Gatot Nurmantyo reting nya menjadi naik karena kesannya terdzolimi dan Jokowi sendiri sama saja menggali kubur sendiri akibatnya rating nya turun.

Supaya hal ini tidak menjadi bumerang yang ibarat penulis menggambarkan “Apakah ini pertanda runtuhnya Jokowi dari singgah sana (Istana)” maka kekeliruan hal yang serupa jangan sampai nantinya terulang lagi.

Saya yakin bahwa Bapak Jokowi punya jiwa dan nurani yang cukup baik, santun dan terpuji namun dari bisikan atau masukan kanan serta kiri membuat beliau boleh di katakan blunder, bingung bahkan frustrasi, sehingga keputusan atau kebijakan yang di ambil, kalau sama-sama kita amati sangat merugikan buat diri Bapak Jokowi sendiri dan hal ini harus di bayar mahal dengan resiko nya yaitu melorot bahkan anjlok rating survey nya.

Terima kasih dan mohon maaf Wassalam Wr Wb, Adijawa Solusi (Penulis)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *